Monday, 30 October 2017

Hukum Mahar (Mas kawin) Isteri Yang Belum Dibayar


Kewajiban memberikan mahar kepada Isteri sebagaimana Alqur’an menyebutkan sebagai berikut:
 “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…….. (QS. Annisa’ [4] : 4)

“…. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban;…. (QS. Annisa’ [4] : 24)

Hadis Rasulullah Saw tentang wajibnya memberikan mahar meskipun hanya sebuah cincin yang terbuat dari besi, sebagaimana sabda beliau yang bermaksud,

“Mintalah (mahar itu) walaupun (hanya sebuah) cincin yang terbuat dari besi” (HR. Bukhari Muslim). Nama lain dari mahar ada 10 yaitu: Mahar, Shadaq, Nihlah, Ajrun, Faridhah, Hiba, ’Uqrun, Alaiq, Thaul, dan Nikah. (P, 6758, Juz: 9, Alfiq Alislami Waadillatuhu Oleh Prof.Dr. Wahbah Zuhaili).

Maka dari keterangan diatas mahar itu adalah hak seorang isteri yang wajib diberikan oleh suaminya. Status mahar adalah hak yang dimiliki sang isteri maka jika hak isteri dipinjam maka wajib pula hak isteri itu dikembalikan. Lantas bagaimana jika meminjam mahar isteri kita tersebut karana keperluan mendesak. Tergantung kepada sang isteri, apakah isteri kita itu redha atau tidak jika dipinjam tidak dikembalikan. Jika tidak direlakan maka setatus hukumnya adalah hutang yang wajib dibayar.

Jika sengaja tidak mau membayarnya sedangkan kita mampu untuk membayarnya maka hukumhya adalah “Haram”. Apabila kita meninggal dunia sedang hutang mahar tersebut belum dibayar setatusnya tetap hutang dan akan diminta pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Larangan didalam Islam meminjam (hutang) milik orang yang tidak dikembalikan, mengambil harta orang lain tanpa hak (mencuri, korupsi, curang dalam berdagang, dll) ancamannya adalah, sebagaimana terdapat didalam Alqur’an yang bermaksud:

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta. Barangsiapa yang berkhianat (mengambil hak orang lain dengan cara batil) dalam urusan harta, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Aliimran [3] : 161)

Dari ayat Alqur’an di atas jelas bahwa hukumnya adalah “Haram” siapa saja yang meminjam harta orang lain dan sengaja tidak mau mengembalikannya atau mengambil hak orang lain secara batil, koropsi, curang dalam berdagang, dll.

Namun jika kita berniat untuk menunaikan atau membayar hutang sedangkan kita belum memiliki kemampuan untuk membayarnya bahkan sampai mati kita tidak mampu membayarnya, maka hukumnya tidak mengapa, dengan syarat kita telah berusaha untuk membayar hutang tersebut, namun kita tidak mampu juga mendapatkannya. Orang seperti ini segala hutang-hutangnya insya-Allah akan dibayar oleh Allah Swt kelak di akhirat sebagaimana Rasulullah Saw bersabda yang bermaksud,
 “Barang siapa mengambil (meminjam) harta orang lain, sedang ia ingin untuk membayarnya (menunaikan kepada pemiliknya) maka Allah Swt akan membayarkannya, dan barang siapa yang mengambil harta orang lain namun ia ingin membuangnya (merusak, mencuranginya), maka Allah Swt akan merusaknya (menuntutnya kelak pada hari kiamat)”. (HR. Imam Bukhari).

KESIMPULAN:
1.Mahar isteri kita yang kita berhutang wajib dikembalikan jika kita ada kemampuan untuk membayarnya atau isteri kita redha tidak dibayar, maka tidak mengapa.

2.Hutang yang kita miliki kepada seseorang termasuk isteri atau keluarga kita, yang kita belum mampu untuk membayarnya, sedangkan kita tetap memiliki kesungguhan niat untuk membayarnya. Ternyata sampai kita wafat atau meninggal dunia belum terbayar, maka sebagaimana Hadis Shahih di atas Allah Swt kelak pada hari kiamat akan membayarkannya.

3.Orang yang sengaja tidak mahu membayar utang hukumnya adalah “Haram” berdosa, orang tersebut dikatagorikan “Fasiq”.

4.Hutang orang yang meninggal boleh dibayar di dunia oleh Ahli warisnya seperti anak, cucu, isteri, dlsb.